Feeds:
Posts
Comments

Melbourne, Tuesday, Apr 15, ‘08 11:16 PM

Assalamu’alaikum,

Azka,
Semalem Azka susah banget tidur. Semaleman, penuh.
Azka nangis terus, kayak yang kesakitan.
Kayaknya karena Azka “nelen” terlalu banyak udara masuk pas lagi minum ASI, dan engga mau burping. Jadinya banyak angin numpuk di perut baby …
Kalau pas diposisi 45 derajat, or tegak, Azka biasa2 aja.
Dan pas udah nutup mata bobo di posisi ini, kita bobo-in, Azka nangis2 lagi.

Tapi alhamdulillah, menjelang shubuh, Azka already feeling better.

Bunda tadi akhirnya nelpon Breastfeeding association, and konsultasi dengan lactose expert.
Katanya itu normal untuk bayi seumuran Azka.
Yang harus diingat:
1. Minimize udara masuk pada saat diberi ASI.
2. Usahakan untuk di”burp” setelah diberi ASI, biar anginnya keluar; put her on this burping position for approx. 10 minutes (i.e. be patience and dont put her down after 1 minute).

Also, hari ini Azka coba mimic-ing ekspresi Ayah yah … hehehe. Bikin bunyi2 pake bibir … dan Azka berhasil .. yay :P
Terus lagi, the baby gym yang dikasih tante nurul dan juga oom Nana berhasil yah … baby seem to be occupied with the activity. Always trying to reach the cube and the ball (baby’s right and left hand respectively), dan yang bintang (middle position), itu agak sedikit sulit. Azka kayaknya penasaran banget, dengan muka hampir2 nangis karena engga berhasil, tapi terus coba angkat / melengkung-in badan sendiri to reach the star / middle target. Alhamdulillah berhasil juga … heheheh …
Dari hasil latihan ngegym itu, badan Azka (dan juga leher Azka) udah lebih kuat untuk memberikan sedikit “perlawanan” kalo lagi ditaro di burp position. Biasanya kalo ditaro kayak gini, malah bobo … :D

—–
Other note … Azka udah engga pernah dikasih madu lagi. Yg sehari setelah Azka datang, Ayah selalu ngasih madu tiap kali Azka nangis minta ASI, tapi pas bunda lagi bobo. Ternyata itu punya adverse affect to baby’s condition. Jadi yg lemes, ngantuk, koordinasi otot yg kurang bagus. Itu yg bikin Ayah dan Bunda + Kakek Nenek panik hari kedua …. heheh …
Jadi, skarang, mendingan Ayah bangunin bunda deh daripada dikasih madu.
Madu nanti aja yah Ayah kasihnya, pas udah 1thn lebih …

—-
Kemarin dan hari ini (Senin dan Selasa, 14 / 15 April respectively), kita udah visiting ke beberapa local childcare. Untuk mempersiapkan Azka untuk thn depan, january 2009, kalau misalnya bunda udah selsai maternity leave nya 1 thn dan balik kerja lagi.
Mudah2an dapet yah Nak … yang deket2 aja lah, biar gampang antar jemput nya. Insha Allah.

—-

Udah dulu yah anak-ku sayang … udah malem.
Bunda dan Azka udah bobo.
Ayah niy masih kurang bobo juga, jadi satpam siang – malem … hauheuh …
Mesti rajin2 minum vitamin, makan buah dan sayur niy biar engga tepar.
Insha Allah engga.

Anyway, besok jam 9.30 pagi, kita ada appoinment sama midwive (local council, bukan hospital). Untuk nge-cek keadaan Azka.

Siang nya, jam 2pm, ayah ada interview lagi sama Hudson agency, untuk lowongan kerja bagian Procurement Category Specialist – Indirect Material and Services di Phillip Morris International (Yes Fariz, you read me right … di PMI. Luckily this one goes for the indirect spending, not production spending).
At the same time, Ayah nunggu kabar dari National Foods untuk Graduate Procurement position juga.
Hmm, yang ini juga sama challenging nya niy … tapi untuk posisi ini, harus willing untuk direlokasi selama 8 bulan. 4 bln di QLD, 4 bln di NSW … and in regional areas, bukan di capital cities nya. Wah wah …
Anyway, semoga Allah memberikan kita rezeki halal yang terbaik ya nak, dimana aja itu berada. Amin.

Luv u bunda.
Luv u Shaafazka :)

Wassalaam,

Abu Azka.

Melbourne, Sunday Apr 13, ‘08 9:11 AM

Assalamu’alaikum,

Dari kecil, gw diajarkan dan selalu diingatkan untuk terus mengamalkan do’a untuk orang tua:
“Allahummaghfirli wali walidayya warham huma kama rabbayani saghirah”

“Ya Allah, kasihanilah kedua orang-tua ku, sebagaimana mereka mengasihani aku pada saat aku kecil”

And now, I can reflect that do’a even more.

Kasih sayang orang tua terhadap anak nya, is very deep. Apalagi cinta dan kasih sayang seorang ibu thd anak yg dilahirkannya dan pengorbanannya, is really endless dan tidak bisa dibayarkan dengan harta yg menggunung sekalipun.

Bila si anak menangis tengah malam,
Orang tua akan turun tangan untuk mengurangi tangisannya.
Apakah dengan si ibu yang memberikan ASI-nya,
Apakah dengan si bapak yang menggendong anaknya dengan memberikan comfort dari suara dan sentuhan lembut ke pipi anak,
Apakah dengan pengorbanan mengganti popok yang basah, sambil terkantuk-kantuk ….

Sekarang saya lebih mengerti ketika saya mengamalkan do’a diatas untuk kedua orang tua saya.
Terlepas apakah dulu saya diurus oleh seorang baby sitter / tidak,
Orang tua selalu mencurahkan kasih sayang nya tanpa pamrih terhadap anak-anaknya.

Ya Allah, kepada orang tua kami … curahkanlah Kasih SayangMu, berikan Ampunan-Mu dan keridhaan-Mu, berkahkan Surga Firdaus-Mu, jauhkan Neraka-Mu.
Jangan biarkan mereka menyesali kehadiran kami di dunia ini, karena kami yang selalu membangkang dan membantah.
Curahkan kepada kami kesabaran yang amat sangat, agar kami bisa menggali hikmah-Mu
Jadikanlah kami anak-anak yang berbakti kepada mereka, dan kumpul-kanlah kami di Surga Firdaus-Mu kelak.

Amin ya Rabbal Alamin.

Wassalaam,
Sidqie Djunaedi

Today …

Melbourne, Apr 8, ‘08 8:19 PM

Hari ini …

Assalamu’alaikum,

Hari ini baby “ngerjain” ayah dan bunda yah.
hauheea … tadi siang pas abies Azka pup, Ayah ganti popok, eh, tiba2, Azka pipis. Hahaha … ulang lagi deh dari awal.

Terus, malemnya, giliran bunda yg dikerjain Azka. Udah lagi ganti popok karena pup, dipasang, baru dipasang celana, eh, kok tampang Azka “serius” dan diikuti dengan bunyi + bau yg familiar … :D
Alhasil, … ulang lagi deh … hahaha … dasar … :P *cium2in pipi Azka*

Alhamdulillah, hari ini midwive dari RWH dateng lagi, ngecek berat badan Azka.
Waktu baby keluar, itu 3.18Kg.
Sehari setelah, 3.10Kg.
2 hari setelah, drop jadi 2.8Kg. Itu karena pas Azka lagi “males” makan, … lemes dan ngantuk terus bawaannya.
Alhamdulillah, 5+D, Azka naek lagi jadi 3.16kg yah … :) Seneng dengernya.

Also,
Azka skarang udah mau mulai tidur miring2 niy … udah mulai coba balik badan.
Tsk2 … baru 5 hari aja udah begini … ntar sebulan udah balapan sprint 100m merangkak ama ayah … saingan ntar … yang pasti ayah engga akan merangkak, tapi gelinding kayak bola. Hmm … kayaknya harus diet lagi … loh kok jadi curhat? Hush.

Setelah diulang2, first name Azka kayak orang Russia emang yah? Shaafazka … hauheau … ah, biarin ah. Khan artinya bagus … :)

Owh, terus, placenta Azka … or … uhm … apa siy itu namanya yg di udel itu (hmm .. ki udel, kalo lo baca ini, lo jangan gr yah … hahaha) … udha kering dan alhamdulillah copot … :D

Ya udah, Ayah mau coba2 browsing kerjaan lagi niy … alhamdulllah tadi ditelpon sama National Foods, katanya mau conduct phone interview besok. Do’ain yah baby. Khan ini untuk kita sekeluarga juga. Hayoh, semangat! … Doa + usaha yang terbaik. Caiyo.

Wassalaam.
Abu Azka
Ummu Azka

Being a Dad

Melbourne, Apr 7, ‘08 10:01 PM

Menjadi Ayah …

Bangun tengah malam,
Ganti popok,
Dikencingin,
Dimuntahin,
Dibuat khawatir karena baby in deep sleep selama lebih dari 8 jam, dan engga mau makan or even responsive … yg akhirnya ngebut ke emergency.

Migraine karena kurang tidur,
Bela2in belanja bhn2 makanan at odd times of the day, biar bunda bisa makan enak, yg mana bisa ngasih Asi dengan gizi terbaik buat baby.
Paling awal bangun kalo baby udah nangis, karena takut ganggu bunda yg lagi istirahat
Jalan pagi-pagi biar baby kena sinar matahari

But then, I really enjoy every seconds of it.

Sambil liat senyum pertama Azka, pada saat di Emergency Room,
Sepertinya Azka tengah bercanda dengan seorang Malaikat dalam mimpi Azka,
Untuk memastikan agar kami tidak usah khawatir lebih jauh,
Karena everything is fine,
And everything is fine.

Mendengar teriakan dan tangisan Azka,
dan kami mencoba meredam tangisnya dengan membaca Ayat-Ayat Al-Quran,
seringkali Azka terdiam sebentar, mungkin teringat pada saat masih berada dalam rahim, mendengar ayah dan bunda melantunkan Ayat Ayat Allah.

Ah, mudah2an cinta dan curahan kasih sayang kami kepada engkau, Anakku,
Akan meningkatkan cinta dan Iman kami kepada Allah.

Wassalam,
Sidqie, Ranie,

Untuk Azka tercinta.

Life is ….

Melbourne, Apr 7, ‘08 9:08 PM

Short.

It is. Come to think of it.

Dengan kehadiran Azka ditengah2 keluarga kami, really make us realize how time flies sooo fast.

Saat ini, kami berdua – Ranie dan saya sendiri – menginjak usia 26/27 tahun. Dan dihadapan kami, telah hadir generasi yang akan menggantikan kami. Apalagi, pada hari yang bersamaan, saya menerima berita duka dari keluarga di Bandung, bahwa salah seorang anggota keluarga terdekat saya, dipanggil oleh Allah SWT, untuk kembali disisiNya.

Begitu juga bila saya mencoba meniti kembali perjalanan hidup saya di Australia. Sudah hampir 12 thn saya “mengembara” disini, semenjak umur 14 thn in 1996.

Dan 12 thn ini, betul2 terasa begitu cepat!
Kbr2 yg saya terima dari sms dan email keluarga,
Ttg sanak saudara yang melahirkan anak,
Atau saudara lain yang mengukuhkan cinta mereka dalam keluarga,
Atau saudara lain yang meninggalkan kami, yang kami harapkan akan berkumpul kembali di Jannatul FirdausNya.

Families formed.
Friendship ties are made.

Melihat keadaan keluarga kami saat ini,
Yang mencurahkan segala perhatian, energi, kesabaran dan kasih sayang kami untuk Azka,
Kami mencoba melihat keadaan yang berbeda,
Pada saat kami berada dalam posisi Azka saat ini.

When we were born, helpless, but received so much love and care from our parents.
Ah, betapa kami menyia-nyiakan kehadiran mereka.

Kami kemudian decided, lets “just enjoy the moment”.
With Azka, (and our other – upcoming – children of course).
With our Parents, and all our family members.

Mencoba memberikan yang terbaik dari usaha dan tingkah laku kami.
Karena kami yakin, bahwa semua ini adalah titipan dari Allah SWT, yang bisa diambil setiap saat, kapan saja Ia mau.
Karena kami yakin, 10 – 12 thn kedepan, akan sama cepatnya dengan 10-12 thn terakhir yang telah kami jalani.
Dan kami hanya ingin menikmati perjalanan hidup kami kedepannya dengan memberikan yang terbaik yg kami bisa.

Iya, mudah2an, kami bisa mengabdikan yang terbaik itu. Insha Allah. Amin.

Luv u our mum and dads.
Luv u Azka.
Luv u our brothers and sisters.
And we all miss being together again as a family.

Wassalam,
Sidqie, Ranie, Azka.

Finalizing Name

Options:

1. Safa Hafeezha Raihana DJunaedi

2. Azka Hafeezha Raihana Djunaedi

Finalized (06 April 2008): Shaafazka Aleesha Djunaedi (Pure and Pious, and Protected by Allah).

Labor Summary

The Royal Women’s Hospital, Melbourne

Mother

Mother: Admitted 03/04/2008, Transferred from 44, to Ward 41, Bed 12

Delivered Time: 21:42

Estimated Gestation: By Dates – 41 Weeks; By Ultrasound – 41 Weeks

Labor and Delivery: Spontaneous Labor, Liquor Meconium, 1st Stage: 19 Hours, 2nd Stage: 42 Mins, 3rd Stage: 6 mins. Total Observed Labour: 19 hours 48 mins

Labor and Delivery: Membranes ruptured on 03 April 2008, at 17:30. Hindwater ruptured on 03 April 2008 at 15:30.

Type of Delivery: Normal

Analgesia: Intramuscular Narcotics, Nitrous Oxide, Other

Blood Loss: 400ml, No transfusion

Baby:

Condition: Live

Sex: Girl

Birth Weight: 3188 Gr

Birth Length: 50cm

Apr 4, ‘08 12:33 AM
for everyone
We arrived in Royal Women hospital this morning (Thursday, 3 April 08) at around 4AM.
They admitted us to the Emergency Section, just to have check and continously monitor on the mums and bubz.

5.30AM, the midwive performed an internal check. 4cm dilation.
9.30AM, another internal check, still at the Emergency Room. 5cm dilation.
1.30PM, another internal check, this time at the small room in the Birth Centre (Lv 4). 6 cm dilation.
5.50pm. Still betwen 6-7cm.
Ranie is on Gas and Pethadine to minimize her contractions pain.
7.30pm doctor broke her water (the one on top of the bubz’ head) in order to fast things around, and give her a “drip” to make the contractions closer together.
9.00pm, Ranie is ready to push the baby. Alhamdulillah Ranie was doing extremely well. I did not her scream at all (I heard the other two ladies screaming really loud from next door. I thought Ranie will do the same. But Alhamdulillah, she’s very patience indeed).

9.42pm. Baby is born into this world. Alhamdulillah.

All that weariness from waiting all day round, just vanished into the air as soon as we see the baby.
Midwives straigth away put the baby on Ranie’s chest to give a skin-to-skin contact between the mum and the baby (no bath, no cleaning … but apparently this is very good the baby-mum wellbeing and bonding/attachment). Placenta still connected, and Alhamdulillah I did the cutting of the placenta.

Adzan on her right ear, Iqamah on her left ear.

———–
I’m rewriting this in the office the next day (Friday April 04, 2008).
I’ll rewrite this again later on, just want to put some record of our experience.

Luv u Bunda.
Luv u our lil baby :) Akhirnya kita ketemu juga yah sayang … ^_^ Sing jadi anak yang shalehah, yang pintar, yang tidak (mudah) putus asa, yang beriman dan bertaqwa, yang bisa kukuh memegang iman Islam sampai akhir hayatnya, yang bisa memberikan banyak manfaat dan kontribusi positive kepada masyarakat sekitar, apalagi untuk orang2 yang betul2 membutuhkan. Amin.

Wassalaam
Sidqie

Weight: 3.18Kg
Lenght: 50 Cm

Melbourne, Apr 3, ‘08 3:33 AM

Ranie’s been having some (irregular) heavy contractions since 11.30pm (Wednesday, 2 Apr 08).

It’s Thursday, around 3AM now. My Wife getting more regular contractions since 1.30AM …

Called up the Emergency Dept at Royal Women Hospital, and consult with them.

Is it time?
Wallahu alaam.

Better be prepared.

We’ll be going to the hospital soon.

Pray for us. Insha Allah.

Wassalaam
Sidqie & Ranie.

Melbourne, Mar 26, ‘08 10:31 PM

Ayat Ayat Cinta – Refleksi Diri

*Edited version, untuk Majalah Ibrah edisi Bulan April 2008*

Salaam,

Saya baru selsai membaca Novel Ayat Ayat Cinta, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy, atau yang akrab disapa dengan panggilan Kang Abik ini.

Akhir February lalu, cerita dalam novel ini ditranslasikan ke film layar lebar. Ini menjadi diskusi hangat komunitas Indonesia terlihat dari banyaknya blog-review-artikel bertebaran di dunia Maya. Tidak hanya di Tanah Air, tapi juga di Mancanegara.

Karena film ini baru saja launching di Indonesia, maka otomatis, filmnya tidak (atau belum) secara resmi ditayangkan di Melbourne. Saya “berperang keras” untuk menolak godaan menonton DVD-DVD bajakan yang sudah tersebar diantara rekan-rekan saya disini maupun via situs Youtube. Ini memaksa saya mencari alternative lain untuk mencari informasi tentang cerita Ayat-Ayat Cinta.

Alhamdulillah, seorang rekan saya dengan senang hati meminjamkan buku ini.

Novel Ayat Ayat Cinta sarat dengan da’wah Islamiyah, namun tetap terbungkus dengan (sangat) apik dalam alur cerita yang indah dan menyentuh hati. Pembaca pun diajak untuk mengenal Karakter Utama bernama Fahri, dan terjun di dalam dunianya di Cairo.

Saya tidak akan melakukan ‘book review’ Novel ini, tapi saya hanya ingin sekedar berbagi kesan ketika saya terjun dalam dunia Ayat Ayat Cinta.

Kesan pertama ketika saya membuka lembaran-lembaran awal, “whow … this book is great! Engga nyangka penulis mengambil bermacam-macam referensi dari Quran, buku-buku Sunnah Nabi SAW, dan literatur-literatur Islam lainnya. Tapi cara penyampaian da’wahnya sangat halus, seiring dengan jalan cerita si Main Character. Nice”.

Sebetulnya begitu banyak hikmah yang bisa saya dapatkan di dalam setiap bab-bab Ayat Ayat Cinta. Dalam bab 3, misalnya, yang berjudul “Kejadian di Metro”, membahas perihal kewajiban kaum Muslimin untuk memberikan perlindungan sebaik-baiknya kepada ahlu-dzimmah – yaitu semua orang non-muslim yang berada di dalam negara kaum muslimin. Terhadap jiwa mereka, harta kekayaan mereka, dan hak-hak mereka.

Pada kali ini, saya sengaja “tinggalkan” pembahasan tersebut, dan memfokuskan kepada tema romantisme yang menjadi inti novel Ayat Ayat Cinta.

Bab 30 – Ayat Ayat Cinta
Ada satu percakapan antara Fahri dan Aisha –istrinya-, ketika Fahri dimasukkan ke dalam penjara karena difitnah melakukan perkosaan. Singkat kata, Aisha ingin membebaskan Fahri dengan menyuap beberapa karakter antagonis yang memasukkan Fahri ke dalam penjara.
Percakapannya sebagai berikut (pp. 361-362)

“Aisha isteriku, apakah engkau benar-benar mencintaiku?” tanyaku.

Aisha menganggukkan kepala.

“Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak ingin kita sekarang ini saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling membenci dan saling memusuhi”

“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di akhirat justru saling memusuhi?” tanyanya.

“Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketakwaan kepada Allah maka keduanya bisa saling bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta keduanya justu menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil maupun besar. …. Seseorang yang sangat mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa atau tidak dosa. Jika yang dilakukan adalah dosa tentu akan menyebabkan keduanya akan bermusuhan kelak di akhirat. … Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam surat Az-Zuhruf ayat 67: Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa’

Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini saling menyayangi dan saling mencintai kelak di akhirat justru menjadi musuh dan seteru. Aku ingin kelak di akhirat kita tetap menjadi sepasang kekasih yang dimuliakan Allah SWT.

… Jika memang kematianku ada di tiang gantungan, itu bukan suatu hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab, tapi kematian ada satu, yaitu kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian adalah besarnya ridha Tuhan kepadanya. Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangna dirimu di akhirat nanti.”

Dialog ini kemudian melayangkan kisah-kisah yang telah saya alami, maupun mendengarkan cerita orang-orang terdekat saya yang mengalami kejadian serupa. Ah, berapa banyak hal-hal yang telah kita lakukan, dikarenakan kita terlalu mencintai makluk-Nya dan dunia ini, sehingga melakukan maksiat terhadap sang Khaliq.

Karena terlalu cinta pada Dunia, maka hati tidak berusaha menjaga mata dan penglihatan.

Karena terlalu cinta pada Dunia, maka hati tidak berusaha menjaga lisan dan langkah kaki.

Karena jasad takut kekurangan uang untuk memberi makan dan pakaian untuk istri dan anak-anak, maka ayah pun menghalalkan segala cara, atau ‘berusaha’ sembunyi dibalik logika.

“Ah, bunga kartu kredit kecil, bisa lah dicicil dalam 1-2 tahun demi mendapatkan perabotan rumah”

“Boleh lah saya ambil project ini, sekali aja kok, biar bisa mendapatkan bonus uang tambahan”, meski dalam nurani terdalam proyek ini termasuk mendekati makruh.

“Engga apa-apa yah Ayah coba kerja di industry ini, gaji-nya hampir dua kali lipat apa yang Ayah dapat sekarang, k?”

Mudah-mudahan Allah memberikan Rahmah dan Maghfirah-Nya atas kealpaan hamba-Nya, dan memberi peringatan sebelum akhir hayat kita agar kita bertobat, dan mendapatkan Husnul Khatimah dengan seijin Allah SWT.

Sungguh, saya tidak ingin berseteru di Hari Akhir nanti dengan orang-orang yang saya cintai. Isteri, dan anak-anak. Apalagi Orang Tua saya sendiri.

Orang Tua? Uh, apa jadinya bila saya berseteru dengan orang tua saya sendiri? Hanya karena mereka banting tulang berusaha menyekolahkan kami dan berusaha keras memberikan makanan, pakaian dan rumah yang layak untuk anak-anak mereka? Berbelas –bahkan puluhan- tahun memeras keringat demi keluarganya, yang seringkali ‘memaksa’ mereka mengorbankan segalanya. Kehidupan Akhirat sekalipun. Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni mereka, dan memasukkan mereka ke Jannatul FirdausNya. Amin.

Refleksi Karakter dalam Novel Ayat Ayat Cinta
Ketika membaca bab-bab awal novel ini, saya seringkali ‘bingung’ dengan karakter ini, seakan-akan terlalu ‘sempurna’ sifat-sifatnya. Meskipun Kang Abik mengatakan bahwa banyak ‘Fahri-Fahri’ di Cairo sana. Tapi, sudahlah. Saya tidak ingin mempersoalkan standard karakter yang dituliskan Kang Abik.

Pelajaran bagi saya, ketika membaca kehidupan Fahri sebelum-proses-dan-sesudah menikah adalah, begitu banyak ilmu-ilmu yang belum saya pahami. Apakah itu ilmu menjadi seorang suami yang shaleh, yang bisa membahagiakan isteri. Apakah itu ilmu mendidik istri dan anak-anak, untuk bersama-sama melangkahkan kaki ke pintu Surga Firdaus-Nya. Ilmu Fiqih dan Aqidah. Bahkan hafalan Surat Al-Quran sekalipun, padahal inilah Ayat-Ayat Cinta yang sesungguhnya dilayangkan dari Sang Khaliq kepada makhlukNya melalui hamba Allah yang terbaik, Rasulullah SAW.

Inilah yang kemudian mengetuk pintu hati saya untuk terus belajar dan terus berusaha agar menjadi suami dan ayah yang shaleh, yang terbaik untuk keluarga saya. Yang bisa menuntun dan mengajak keluarga mencapai ridha Allah, menggapai Rahmat dan MaghfirahNya kelak.

Bab 24 – Surat Dari Nurul
Di dalam Ayat Ayat Cinta, ada seorang karakter perempuan bernama Nurul, yang menyimpan perasaan sayang dan kasihnya kepada Fahri. Ia menuliskan surat kepada Fahri, menyampaikan rasa cintanya, ketika mendengar berita Fahri telah menikah dengan Aisha.

Fahri kemudian menuliskan surat balasan untuk Nurul.

Salah satu isinya sebagai berikut:

“Nurul … cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kida pada psangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan. Nurul, dunia tidak selebar daun anggur. Masih ada jutaan orang saleh di dunia ini yang belum menikah. Pilihlan salah satu, menikahlah dengan dia dan kau akan mendapatkan cinta yang lebih indah dari yang pernah kau rasakan”

Ah, betul-betul nasihat yang menusuk hati. Betul-betul ini menjadi peringatan untuk diri sendiri terdahulu, sebelum menjadikan nasihat bagi saudaraku sekalian.

Wahai hati, jangan engkau terpaut dengan masa lalu. Karena sekarang kita sudah memasuki lembaran baru. Jangan samakan ini dengan mengendarai kendaraan bermotor, yang mengharuskan kita memperhatikan apa yang ada dibelakang kita. Untuk hal yang ini, lupakanlah wahai hatiku. Sesungguhnya bila engkau kerap kali hidup di masa lalu, engkau akan lupa untuk merajut masa depan yang lebih baik bersama sahabat hidup-mati mu, yang mempunyai hak yang sah atas mu.

Terima kasih isteriku, karena engkaulah jawaban atas do’a ku dari Ilahi Rabbi. Bukan dia. Bukan dia. Dan juga bukan dia.

Terima kasih atas kesabaran dan pengertian yang tercurahkan. Maafkan hati bila telah menyakiti. Dan aku berterima kasih kepada Ilahi Rabbi, karena telah memberikan hambaNya yang dhaif ini, seorang istri yang shalehah seperti engkau. Mudah-mudahan Allah memberikan aku kekuatan Iman, kesabaran, cahaya hidayah, agar pintu-pintu hati bisa terjaga dengan baik.

Di dalam diskusi yang saya baca di Dunia Maya, banyak poin yang terangkat tentang perbedaan detail film Ayat Ayat Cinta vs Novel aslinya. Saya pribadi kurang bisa berbicara tentang filmnya? Tapi, jika saya melihat kilas balik. film-film sekelas Harry Potter dan Lord Of The Rings pun tidak bisa mendekati detail tulisan Novel aslinya.

Dalam konteks Ayat Ayat Cinta, terlepas dari niat awal si Sutrada dan Penulis – apakah untuk berda’wah maupun komersil – tapi bentuk Film dan Novel menjadi media da’wah yang berbeda, dan juga mencakup target market yang berbeda.

Namun keberadaan Film Ayat Ayat Cinta, di industry perfilman Indonesia, menjadi satu benchmark baru. Yang saya harap bisa memicu sutradara lainnya untuk menghasilkan karya yang berkualitas dari segi Sinematografi dan Teknis pembuatan filmnya, dan yang lebih penting berkualitas dalam Isi dan Tema film yang dibuat.

Saya rasa cukup sampai disini. Karena istri dan saya sedang menunggu menit-menit kelahiran buah hati kecil kami.

Jika nanti ada waktu lagi, insha Allah saya akan teruskan tulisan ini. Karena masih begitu banyak hikmah yang saya dapat gali lebih jauh setelah membaca Novel Ayat Ayat Cinta.

Wassalaam.
M. Sidqie R. Djunaedi (sidqie.blogspot.com)
Rahma Ranie Kasmir
Safa Raihana Aleesha Djunaedi (Yang Menunggu Kehadirannya di Dunia).

Older Posts »