Assalamu’alaikum,
Shaafazka sayang. Banyak catatan-catatan kecil yang indah yang Ayah dapatkan, ketika Ayah di Jakarta, meluangkan waktu yang banyak sama Shaafazka. Namun, semua itu tidak tercatat dalam kertas, atau buku dan tidak pula tercatat dalam blog ini. Tapi semua terajut dengan indah di dalam hati, dan memori.
Shaafazka sayang. Ayah selalu mengingatkan diri ini berulang kali. Bahwa, di dalam nama mu, Ayah & Bunda tautkan sebuah do’a dan munajat kepada Allah Azza Wa Jalla. Shaafazka (Shaafa = Pure, Azka = Pious). Aleesha (Protected by God, ie Allah). Djunaedi. Ie: Kami berdoa, bahwa Allah akan selalu menjaga Shaafa untuk menjadi seorang yang suci dan beriman, yang selalu berada di jalanNya. Ayah dan Bunda hanya dititipkan oleh Allah SWT, untuk menjagamu dengan sebaik-baiknya.
Anak-ku sayang.
Ayah semakin menikmati melintasi waktu ketika ada Shaafazka di dalamnya.
Ah, mungkin karena Shaafazka akan ada di Jakarta dulu bersama Bunda untuk sementara, menemani Bunda berobat dan menemani Jiddi dalam rangka pemulihan dari sakit.
Atau mungkin karena hal lainnya? Ayah semakin menyadari, dunia ini hanya milik Allah. Dan segala sesuatu tunduk akan kehendakNya. Engkau dan aku hanyalah titipan sementara di dalam dunia ini.
Sadarilah anak-ku akan hal ini, dan engkau tidak akan memasukkan dunia dalam hati mu, tapi menjadi dunia tunduk dalam genggaman-mu.
Anak-ku sayang, yang boleh masuk dalam hatimu hanyalah Allah. Yang boleh engkau tunduk patuh, hanyalah Allah. Karena Dunia, hanyalah tempat singgah. Dan manusia tercipta dengan sangat lemah, betapapun hebatnya kita anggap diri kita ini.
Anak-ku sayang, maafkan Ayah. Atas kelemahan dan kekurangan Ayah.
I luv you my dearest daughter. You’re one I hold dearest in me, even before I see you’re born in this world.
Wassalaam
Ayah.

