Catatan #4: 30 September 2011

Assalamu’alaikum, 

Hari ini, hari terakhir Ayah di Jakarta. Diantar oleh Shaafa, Bunda, Nindi dan Aki ke Airport. 

Seminggu terakhir ini Ayah selalu ingatkan Shaafa, kalau Ayah akan pulang ke Melbourne. Dan Shaafa selalu menangis, atau setidaknya, tidak mengijinkan Ayah untuk kembali ke Melbourne. “Shaafa juga mau ikut. Ayo kita pulang sama2″. Terkadang ditemani dengan air mata yang terjatuh, terkadang dengan mata yang tegas.

Maafkan Ayah yah sayangku. Tapi, Ayah harus kembali bekerja di Melbourne. Suatu saat nanti, dengan izin Allah, kita akan berkumpul kembali :)

Ketika di airport, Ayah sedang ngantri untuk masuk lewati check in:

Shaafa: “Ayah jangan pergi dulu. Stop!!” *Shaafa mencoba menghentikan langkah ayah, dengan menjulurkan tangan mungilnya ke kaki ayah*

Shaafa: “Ayah jangan pergi dulu. Aku ada sesuatu untuk Ayah” “Bunda, mana tas Shaafa? Tolong copotin itu” *tangan mungilnya menunjuk sebuah gantungan kunci berbentuk sendal*

Shaafa: “Ini untuk Ayah. Untuk kunci rumah kita yah Ayah? I luv you” *sambil minta dipangku dan dipeluk*

Ah, kepergian yang sangat sulit. Tidak ingin Ayah melepaskan mu dari dekapanku, dan begitu juga sebaliknya. 

Tapi, waktu berjalan. Dan Ayah harus pergi. Dengan berat hati, Ayah melepas pelukan Shaafa. “Ayah harus pergi anak-ku. I luv you. And I’ll miss you. Shaafa baik2 yah sama Bunda di Jakarta”

Sambil menunggu naik pesawat, Ayah telpon Shaafa. 

Shaafa: “Ayah, Ayah kemana?? Tadi aku belum bilang I luv you sama Ayah. I love you. I miss you. Aku peluk handphone nya Bunda yah skarang”

Ah, ananda-ku sayang, andai dunia bisa seindah angan dan harapan, tentu air mata ku dan kmu tidak akan membasahi dunia. 

 

Di bawah ada beberapa catatan pendek dari twitter ayah tentang keberangkatan Ayah malam itu:

“Malam ini aku berpisah dengan buah hati-ku. Ah, andai dunia bisa seindah angan dan harapan, tentu air mata ku dan dia tidak akan membasahi dunia.

Ya Allah, sempitkanlah jarak antara dunia ku dan dunia nya, agar aku memeluknya dalam tidur ku, di dalam mimpinya. 

Ya Allah, rajutkanlah cinta tulus seorang anak kepada ayahnya, dan juga sebaliknya, walau waktu akan mengambil kebersamaan kami

Ya Allah, aku titipkan dia dan bunda-nya kepadaMu, karena Engkaulah yang akan menjaganya, dan tidak ada Penjaga lebih baik selain-Mu. 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 180 other followers